Di bawah bayang-bayang PPG

Dua hari yang lalu saya ngobrol  dengan mahasiswa baru  (maba) yang sedang bingung dilanda UKT (Uang Kuliah Tunggal ) yang begitu memberatkan orang tuanya. Pada kesempatan itu, saya kepikiran  dengan PPG (pendidikan Profesi guru). Saya pun menanyakan tentang PPG, maba pun tampak bingung “apa itu ppg kak?” tanyanya. Sore itu saya langsung berkesimpulan, beban pikiran mahasiswa hari ini bukan lagi bagaiamana menguasai materi pembelajaran, tapi bagaimana agar dapat terus lanjut kuliah dengan UKT yang besar, di sisi lain PPG siap menyandung setelah mereka lulus.

PPG  dalam surat keputusan yang dikeluarkan kementrian pendidikan dan kebudayaan nomor 87 tahun 2013 disebutkan bahwa, (1) pendidikan profesi adalah pendidikan tinggi setelah program sarjana yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan khusus dengan persyaratan dan keahlian khusus. (2) Program Pendidikan Profesi Guru atau pra-jabatan atau yang selanjutnya disebut PPG adalah program pendidikan yang diselenggarakan untuk mempersiapkan lulusan S-1 kependidikan S-1/D-IV non-kependidikan yang memiliki kompetensi bakat dan minat menjadi guru agar menguasai kompetensi guru secara utuh sesuai dengan standar nasional pendidikan, sehingga dapat memperoleh sertifikat pendidik professional pada pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Ada dua point penting dalam kutipan di atas, yang pertama pekerjaan khusus dengan persyaratan dan keahlian khusus. Kedua, lulusan S-1 kependidikan s-1/D-IV non-kependidikan. Keahlian khusus untuk menjadi guru tentu seharusnya dan telah dimiliki oleh sarjana pendidikan melalui proses kuliah selama kurang lebih empat tahun.  Sementara lulusan non kependidikan jelas berbeda dengan lulusan kependidikan yang telah dipersiapkan untuk menjadi guru profesional. Jika program s-1 tidak mampu menghasilkan guru profesional, maka yang perlu dilakukan adalah memperbaiki program s-1 tersebut, bukan membuat proyek penampungan lulusan S-1 yang dicap paksa secara massal “tidak profesional”.

Kembali dalam surat keputusan yang dikeluarkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan nomor 87 tahun 2013 pasal 9 disbutkan bahwa; struktur kurikulum PPG berisis lokakarya pengembangan perangkat pembelajaran, latihan mengajar melalui pembelajaran mikro, pembelajaran pada teman sejawat, dan program pengalaman lapangan (PPL), dan program pengayaan bidang studi dan/atau pedagogi.

Baik lulusan kependidikan maupun non kependidikan diberlakukan kurikulum di atas. Lantas, apa fungsi PPL dalam kuliah kependidikan? Sementara lulusan non kependidikan diperlakukan sama dengan kependidikan, padahal belum melalui proses PPL? jika dianalogikan, sama seperti Sarjana kedokteran harus mengikuti koas, sementara sarjana non kedokteran diberikan kesempatan yang sama untuk mengikuti koas. Setelah mengikuti koas, sarjanan non kedokteran mendapatkan sertifikat dokter profesional. Hal ini tentu mendeskreditkan sarjana kedokteran. Hal sama dengan PPG, sarjana non kependidikan  menjadi guru profesional dengan mengikuti PPG. Selain itu, di lampung, PPG hanya dibuka di Unila sementara lulusan S-1 kependidikan diproduksi oleh berbagai universitas dan perguruan tinggi. IAIN, Unila, STKIP PGRI, UBL, UM Metro, UT, dan masih banyak lagi lainnya. semua lulusan itu akan berkompetisi PPG di unila ditambah dengan s-1 non kependidikan. Apakah unila mampu menampung seluruh lulusan kependidikan dan non kependidikan dalam PPG? Apakah semua lulusan FKIP mampu membayar PPG? apakah ini yang dimaksud pengurangan masa mukim di kampus?

Deni Yuniardi (Gubernur BEM FKIP 14/15)

About bem 93 Articles
Website Resmi BEM FKIP Unila | Kabinet KEBANGGAAN BERSAMA | [ubemfkip.gmail.com] | Narahubung: Zulaikah – 085769611714

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*